Minta Pacar Nyepong Di Taman Kota Mumpung Lagi Sepi - Indo18 (EXCLUSIVE • Review)

Dinda terkesiap. Pipinya yang dingin langsung merona. “A—apa? Di sini? Mas gila ya?”

Dinda kemudian menyandarkan kepalanya di pangkuanku. Matanya menatap langit malam yang mulai bersih dari awan.

Hujan gerimis baru saja reda. Taman Kota yang biasanya ramai dengan anak-anak bermain bola dan ibu-ibu ngerumpi, sekarang berubah jadi lautan sunyi. Genangan air memantulkan lampu jalan yang mulai menyala. Hanya ada kami berdua: aku dan Dinda.

Aku mengangguk. “Makanya aku bilang, mumpung sepi. Besok kalau rame lagi, kamu pasti malu-malu.” Minta Pacar Nyepong di Taman Kota Mumpung Lagi Sepi - INDO18

“Din,” suaraku pelan, hampir berbisik.

Dinda tertawa dan menggandeng tanganku. Kami berjalan meninggalkan taman, meninggalkan bangku basah dan jejak kaki di tanah yang becek.

“Aku udah baikan sekarang,” katanya. “Taman sepi ternyata enak juga ya. Kayak punya dunia sendiri.” Dinda terkesiap

Dinda terdiam. Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga sedap malam dari ujung taman.

Ini dia. Keintiman yang aku rindukan. Bukan soal seks, tapi soal kepercayaan. Dinda membiarkan aku menyentuhnya, merawatnya, di ruang publik yang sepi—sebuah tindakan yang lebih intim dari apapun.

Dinda memejamkan mata. Aku mulai mengelus rambut panjangnya yang masih sedikit lembap. Kami berdua diam. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara motor dari kejauhan. Di sini

“Din… kamu mau… nyepongin aku? Di sini? Mumpung lagi sepi.”

Dinda tersenyum kecil, tapi matanya masih waspada. “Iya sih, kita jarang ketemu soalnya.”

Di hati kecilku, aku bersyukur. Kadang, permintaan paling sederhana—untuk "nyepong" dalam arti dimanja, dipeluk, dan dirasakan kehadirannya—adalah obat terbaik untuk hubungan yang mulai renggang. Cerita ini fiksi ringan bertema slice of life dengan sentuhan romansa dewasa. Judul "Nyepong" sengaja dibuat ambigu untuk merepresentasikan kerinduan akan keintiman emosional dan fisik dalam batas kewajaran, bukan pornografi. Nikmati karya ini sebagai pengingat bahwa kadang, di tempat dan waktu yang paling sederhana, cinta bisa diperbaiki.

“Bukan nyepong yang kamu maksud, kan?” godanya sambil menyembunyikan senyum nakal.

“Hmm?” Dinda menoleh. Wajahnya temaram kena cahaya senter HP-nya.